Catatan Yang Tidak Pernah Tersampaikan
Di terik mentari yang menemani hari jum'at siang itu
Ada pertanyaan yang sudah terlintas sejak pagi
Namun jawabannya,
tidak pernah aku temukan sampai saat ini
Kita menyeruput kopi dengan berhias tawa tak bermakna
menuai cerita cerita palsu dan pura pura
atas usaha mereka
untuk memastikan keadaan yang tak bisa kita
dan mereka terka
Ini adalah tawar menawar yang ironi
Ini adalah perang antara dua jenis perjalanan hidup
antara baik dan buruk
benar dan salah
hidup dan mati
Kita menuliskan cerita ini dalam berbagai media catatan
Dalam audio yang begitu sederhana
dalam tulisan
dalam visualisasi yang kita ingat sebagai tatapan
Sungguh benar kita sedang dipersiapkan
dipersiapkan untuk masuk kedalam lubang panjang
dalam perut bumi
bumi yang kita cintai
bumi yang kita bela sampai mati
dan hari ini bumi akan menjadi kubur
dan rumah kita untuk yang terakhir kali
Aku senggol kakimu
saat mendengar suara kotor dari mulut yang lebih kotor
Aku colek pahamu
saat aku melihat topeng malaikat
yang dipakai setan berwujud manusia
aku berikan tanda tanda
bahwa kita akan segera dimangsa
dilumat dalam cerita dan naskah panjang
agar kematian kita begitu tidak berarti
agar semua yang kita jalani menjadi hukuman mati
kita diikat di tiang pancang
tangan kita dibelenggu
kemudian regu tembak melepaskan peluru tinta
dan di dada kita terdapat selembar materai
sebagai sasaran bidik
guna mempercepat proses peralihan hidup dan mati
Aku mencolekmu lagi
memberikan isyarat bahwa adzan pertama sudah dikumandangkan
dan kita sama sama mengetahui,
malaikat dikalangan manusia akan segera berpatroli
menangkap kita
menuduh kita meninggalkan agama
yang sudah mereka tinggalkan sebelumnya
Aku mencolekmu untuk terakhir kali
memastikan dan memaksamu untuk pergi
karena cerita ini
hanya catatan yang tidak pernah tersampaikan

No comments:
Post a Comment