Kita pernah menjadi gerbong yang kokoh menjemput para tentara
Menunaikan tugas sebagai kelana
Aku tersenyum waktu mereka tiba
Lalu hampir juga kita menyesal saat membawa ratusan lawan bela negara
Dengan senjata yang lebih kuat
Dari sekedar meriam dan senapan
Rekanku, kita sudah tak muda
Tak setangguh dulu
Kita generasi batu bara
Yang hitamnya mencatat sejarah usia
Kita benar bergandengan
Berada di depan dan dibelakang
Kita tidak pernah bersiteru tentang dimana urutan kita
Aku harus tersenyum karena kita gerbong yang bijaksana
Mengapa?
Ingatkah engkau
kita pernah diam saat mengantar ribuan domba yang benar benar menyebalkan
Mereka berak diatas tubuh kita karena kebodohannya
Tidak bisa membedakan antara jamban dan mushola
Hahaha
Pasti kau ingin tertawa
Aku begitu pula
Kemari sahabatku,
Meski kita telah renta
Ingatlah selalu
Kita gerbong yang berjiwa sama
Benar tak ada yang sejati didunia
Namun kesamaan tujuan menyatukan kita
Sampai ke rongsokan

No comments:
Post a Comment